Mari bertukar Cerita

Month: January 2018

[GIVEAWAY INSIDE] Manfaat Tujuh Hari Konsisten Menulis

[GIVEAWAY INSIDE] Manfaat Tujuh Hari Konsisten Menulis

PENGUMUMAN PEMENANG GIVEAWAY Metal Earphone: Eva Maulina Notebook: Dhita Hayu Cahayu dan Aviantina Pencil Case + Pen: Linda Cahyanti dan Ranaka Terima kasih juga bagi teman-teman yang namanya belum masuk, maunya sih semua dapat hadiah tapi ya pendanaan terbatas. Hihi.. Yang terpenting, 2018 tak boleh […]

Diet 52: Turun Lima Kilogram dalam Dua Minggu

Diet 52: Turun Lima Kilogram dalam Dua Minggu

Salah satu resolusi yang sering muncul di tahun baru adalah #MenujuSehat2018 #MenujuLangsing2018 dan “menuju-menuju” lainnya yang berkaitan dengan kesehatan dan bentuk tubuh ideal. Tahun lalu, saya sudah berhasil menurunkan bobot sebanyak 5 kg dalam dua minggu saja. Benar: 2 minggu. Ya, sudah mirip iklan suplemen yang […]

Kumpulan Pesan Sri Mulyani kepada Generasi Langgas

Kumpulan Pesan Sri Mulyani kepada Generasi Langgas

 Jangan pernah lelah mencintai Republik ini

Pesan ibu yang kharismatik ini entah sudah berapa kali saya dengar. Pertama kali mungkin sekitar delapan tahun yang lalu, namun “masih terngiaaang di telingakuuu….” sampai saat ini. Lebih dari itu, menjadi penyemangat saat terbersit keinginan untuk menyerah. Seolah Si Ibu mengingatkan, “Ingat le, jangan pernah lelah apalagi menyerah, kamu sudah diberikan kepercayaan untuk menjadi bagian dari perubahan; sekecil apapun peranmu – lakukan sebaik-baiknya, kita ndak pernah tahu hasil usaha kita seperti apa, tapi dengan tidak menyerah untuk mencinta, itu adalah pertanggungjawaban sebaik-baiknya pada Indonesia.”

Oalah bu Sri Mulyani, petuahmu itu, kok ya saya ndak lali lali (gak lupa lupa). Apalagi ada medok-medoknya, makin berasa dinasehati oleh ibu saya sendiri yang kebetulan punya nama depan sama. Jadi ingat, waktu saya dulu wisuda mbok Sri yang melahirkan saya itu memperhatikan betul pidato bu Sri  yang menteri.

Beruntung beberapa waktu lalu saya berkesempatan mendengarkan lagi petuah-petuah Ibu Menteri lewat sebuah acara yang digagas oleh Kemenkeu MudaLha yo mesti, saya sudah siapkan catatan untuk merekam kata-kata beliau yang kuwottebel (asik kalau dibikin quote). Penampilan Bu Sri dengan blazer batik dan semangatnya yang 100% walau acara diadakan selepas maghrib begitu memesona. Walaupun, saya lebih terpana dengan bahasa inggris Bu Menteri. Sungguh, bahasa inggris logat Semarangan yang enak didengar. Sehingga, walaupun kadang beliau menggunakan bahasa inggris saat memberikan arahan dan nasehat, saya seolah-olah sedang dinasehati dalam bahasa sehari-hari. Joss gandhos sensasinya

Berikut ini beberapa petuah yang kuwottebel dan penting tidak hanya bagi generasi langgas alias milenial, melainkan dari generasi ke generasi. Tapi memang, beberapa petuah sangat nendang buat milenial. Seperti yang satu ini

Jangan (jadi orang yang) masih clumsy tapi pengen dapet rekognisi

Kata yang tercetak miring di atas artinya lamban/ ceroboh. Sering terjadi ini pada anak zaman kini; kerjaannya ceroboh, banyak kesalahan minor (bahkan kadang mayor), lewat deadline, tidak mendengarkan arahan, tapi inginnya selalu di depan kalau soal dapat pujian atau pengakuan. Ini yang sering menjangkiti para milenial, merasa ge-er dengan kontribusinya yang entah sebesar (atau sekecil) apa. Kalau menurut hemat saya, pengakuan itu datang dengan sendirinya, ndak perlu gembar-gembor. 

Lha kalau belum dapat rekognisi ya artinya haruslah kerja lebih keras dan lebih cerdas lagi. Yang lebih penting, kerja lebih ikhlas lagi, terutama yang berprofesi sebagai pegawai negeri. Kenapa aparatur negara harus kerja ikhlas? Ya memang fitrahnya begitu: direkrut, dipekerjakan, dimaksimalkan untuk kesejahteraan rakyat, sudah. Nanti kalau kontribusi yang dilakukan sudah dirasakan manfaatnya benar-benar, malah bisa jadi “merasa bahagia karena bisa bermanfaat” menjadi hal yang jauh lebih berarti daripada “sekadar” rekognisi.

Dream beyond yourself, for the good of others

Ini bahasa inggris, tapi merasuk sampai sanubari. Seperti yang saya katakan tadi, diucapkannya Semarnglish (Semarangan English) banget. Ada rasa medok yang menghangatkan hati saat Si Ibu menekan bunyi pada huruf “d”, “b”, “r”, “s” dan “g”. Pesannya, mimpilah, mimpilah yang melampaui dirimu. Tapi bukan sekadar mimpi untuk diri sendiri. Ya, tidak masalah sebenarnya mimpi untuk diri sendiri. Tapi, bila ukuran kemuliaan manusia adalah manfaat, memiliki mimpi untuk kemaslahatan orang lain tentu kan punya nilai yang berbeda. Energinya juga beda, karena mimpi yang kita perjuangkan ini bukan untuk diri kita sendiri. Kalau kita malas-malasan mengejar mimpi, kesempatan bermanfaat lebih banyak lagi bisa pergi. 

Contoh saja, ada seorang kepala desa yang punya mimpi “ingin anggaran desanya transparan dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran masyarakat desa”. Karena mimpinya untuk orang banyak, nggo wong sak-deso, untuk orang satu desa; tentu dia akan mati-matian menggapai mimpinya. Mungkin dia akan memastikan kebutuhan yang tercantum dalam anggaran haruslah benar, mungkin ia akan menyisir setiap pos anggaran berhari-hari dan lembur hingga larut malam, mungkin dia akan menanyakan langsung kepada warga apakah proyek ini itu yang ada di dalam anggaran benar-benar dibutuhkan masyarakat atau tidak. Orang kalau sudah punya mimpi melebihi dirinya, akan punya energi luar biasa dari semesta dan dari orang-orang yang mendoakan niat baiknya. Sambil dilanjutkan baca, yuk sambil mikir kira-kira mimpi kita yang beyond yourself  apa ya?

Disuruh 10 kerjakan 20! Bukan untuk menyenangkan bos, tapi untuk menyenangkan dirimu sendiri

Ya tentu, kalau dapat anak buah macam ini bos mana sih yang tidak senang? Tapi yang lebih penting adalah mindset dari kita sebagai orang yang diberikan perintah. Kalau niatnya sekadar menyenangkan bos, ya lama-kelamaan capek, ngeluh, atau malah misuh-misuh. Beda bila kita bekerja melampaui ekspektasi untuk menyenangkan diri, untuk menunjukkan kepada diri kita sendiri bahwa kita punya kualitas, untuk menaikkan level kita dari hari ke hari dan untuk menjadikan kita terbiasa melakukan kerja dengan sepenuh hati. Saat kita sudah biasa melakukan semuanya melebihi ekspektasi, kesempatan-kesempatan yang cocok dengan spesifikasi intrinsik diri kita akan terbuka.

Be Clear, Be Positive!

Be Clear doesn’t mean you must avoid Head and Shoulders or Pantene. Jadi, seharusnya kita sebisa mungkin suci dalam pikiran – perkataan – dan perbuatan; seperti darma kesepuluh dalam Dasadharma Pramuka. Pikiran harus postif, kurang-kurangi buruk sangka alias suuzan, kurang-kurangi ghibah, kurang-kurangi punya pikiran jelek kepada rekan atau atasan, kurang-kurangi merasa dimanfaatkan, pokoknya kurang-kurangilah pikiran yang membuat mood dan jiwa kita jadi buruk dan kerjaan amburadul. Termasuk soal gawai; kurang-kurangilah mengikuti akun-akun media sosial yang provokatif, membuat judul bombastis, menjajakan amarah, menjual kebencian, dll. Be clear, be positive!

Respect to Other

Inilah yang acap jadi masalah bagi orang-oraang yang baru masuk dunia kerja: milih-milih mau respek ke siapa. Padahal, ya gak perlu. Respeklah pada semua orang, karena di tempat kerja dan di manapun berada setiap orang punya andil yang tidak boleh kita sepelekan. 

Lebih baik toilet paper daripada koruptor, lho iya, toilet paper jelas kegunaannya – coba kalau kamu ke toilet terus gak ada itu, pasti kebingungan- sedangkan koruptor dia sudah tidak ada harganya.

Udah ya, yang ini gak perlu penjelasan. Udah kayak ditampar pakai tangan tak kasat mata, seperti ada seorang ratu bertitah, “Awas yo, sampek korupsi tak antemi ngasi merana uripmu!” o-a o-e.

Sebenarnya pesan beliau ini masih banyak, tapi karena keterbatasan kemampuan saya dalam menulis panjang maka saya cukupkan dengan satu pesan lagi. Kalau mau video waktu Bu Menteri berdiskusi malam itu, silakan cari di Youtube. Eh tapi, karena saya mau mengamalkan disuruh 10 kasih 20, maka waktu jeda mengetik kata “Youtube” saya mencari videonya, baik kan saya, bukan mau cari rekognisi lho ini. Sila tonton cuplikan acara malam itu di sini  karena yang versi lengkap saya belum menemukan. Hmm, langsung lanjut pesan terakhir bu Sri yang saya pindahkan ke sini ya… 

Respect your parents, say love to them. That is a big gift to them.

Ridhonya Allah bergantung pada ……. (silakan jawab) dan murkanya Allah juga bergantung pada murkanya …. (jawab lagi boleh). Alhamdulillah, pinter ngaji rupanya. Pokoknya membahagiakan orang tua sesederhana mengucapkan terima kasih dan rasa cinta kita kepada mereka. Ya, untuk membalas semua cinta dan pengorbanan yang selama ini mereka berikan, tak harus dengan hal-hal besar bila memang belum mampu melaksanakan.

Seorang ayah dan seorang ibu, saya yakin akan sangat bahagia dan bangga punya anak yang pada suatu sore pulang ke rumah, mencium tangan mereka dan berkata, “Ayah, ibu, terima kasih untuk semua yang telah ayah-ibu lakukan buatku; maaf bila aku banyak salah dan bikin sedih; ayah-ibu di balik sikapku sebenarnya aku sangat menyayangi ayah dan ibu; Terima kasih untuk kebaikan-kebaikanmu.” So sweet tenan…

Sejujurnya, ini pun masih menjadi PR buat saya juga, melafalkandahmu rasa cinta kepada orang tua di keluarga yang tidak membiasakan mengungkapkan cinta dengan kata-kata bukan perkara. Sebenarnya bukan tidak mau, lebih ke malu dan belum siap menghadapi suasana haru-biru. Tapi saya sudah niatkan untuk mengatakan.

Nah, bicara soal PR, nasehat-nasehat Sri Mulyani Indrawati di atas, bila sudah terlanjur dibaca ya.. dijadikan PR saja sekalian. Paling tidak mulai dari PR yang awal tadi: soal memikirkan mimpi. Apa mimpimu dalam bermanfaat bagi orang lain?

Jangan merasa pintar. Dulu saya lulusan terbaik di FE UI, waktu masuk dunia kerja merasa belum tahu apa-apa, stay hungry and foolish.

Sri Mulyani Indrawati

Catatan saya selama acara bersama Bu Menteri. Iya, itu memang orangnya yang gak bisa bikin ilustrasi. 😀
Rehat Jumat: Hal Rindu

Rehat Jumat: Hal Rindu

Hal rindu, sering menguras tenaga dan waktu. Setiap kita tentu pernah merasakannya. Mungkin kamu bisa sedikit mengingat saat jatuh cinta. Merindukan orang yang disuka itu rasanya antara bahagia yang sangat, tapi saking bahagianya kadang malah jadi pedih sendiri saat sulit untuk bersua. Hal rindu memang […]

Wisata Jakarta: yang Tersembunyi dari Cikini

Wisata Jakarta: yang Tersembunyi dari Cikini

Jalan Raden Saleh di Cikini diberi nama demikian bukan tanpa alasan; dahulu rumah tinggal pelukis kenamaan tersebut memang terbentang sepanjang jalan yang diabadikan dengan namanya. Hampir semua orang Jakarta tahu letak Cikini. Bahkan banyak yang punya kenangan soal daerah ini. Kamu yang punya masa remaja […]

Reviu Novel: Laut Bercerita – Leila S. Chudori

Reviu Novel: Laut Bercerita – Leila S. Chudori

Gue abis baca prolognya masih berasa kesel. Lagi nyari mood buat baca lagi. Sebenernya gue kurang cocok sama tipe cerita kayak gitu (suspense-pindah seting-suspense-pindah seting dst.). Baperan soalnya. [E. PNS beranak satu]

 

Novel yang berkisah tentang aktivitas pergerakan di tahun 90’an

Novel ini punya awal yang cukup mengentak, bahkan beberapa orang sudah sembab matanya seusai membaca prolog. Novel ini adalah sebuah fiksi yang diangkat dari wawancara dan observasi Leila S. Chudori terhadap korban penculikan dan keluarga korban penculikan dan penghilangan paksa pada Tragedi 1998. Teman saya pun termasuk salah satu pembaca yang terkena dampak psikologis hingga menjeda novel tersebut dengan membaca “novel cinta-cintaan”. Saya sendiri mendapatkan efek yang serupa, prolog yang menyajikan adegan penyiksaan dan diakhiri dengan pernyataan tentang nasib tokoh Laut membuat pembaca menebak-nebak bagaimana seorang Laut menghidupkan kisahnya. Ya, saya termasuk yang berkaca-kaca (dan ambyar juga kacanya) di bagian prolog, tapi bukan Leila jika ia tidak punya cara bercerita yang khas.

Entakan Kedua

Setelah dikagetkan dengan prolog yang begitu suram. Pilu, kalau meminjam istilah Ayu Shita soal novel ini. Saya dientakkan lagi dengan romansa yang lahir dari kehidupan remaja/ mahasiswa tahun 90’an. Benar-benar peralihan yang sepertinya njeglek (tiba-tiba) tapi saya malah menikmatinya. Saya bagaikan diberi jeda untuk bisa bernafas, sebelum dientakkan lagi dengan kepiluan yang lebih menyayat dan kepahitan yang lebih pekat. Begitu terus pembaca dibuat, serasa naik roller coaster kita diberi waktu untuk menikmati pemandangan indah, romasa cinta yang dibalut kegiatan aktivis (tentu ini jadi menarik bagi orang yang belum pernah bersentuhan dengan dunia aktivis pergerakan – atau akan menjadi nostalgia untuk para aktivis pergerakan yang pernah merasakan hal serupa); namun saat menikmati keindahan itu, kita sudah melihat halaman berikutnya bukan lagi kertas berwarna cerah, namun berwarna gelap dan bau darah.

Sebelum melanjutkan reviu, kita lihat dulu cuplikan novelnya lewat tulisan yang tertera di sampul belakang buku ini

Jakarta, Maret 1998

Di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa bernama Biru Laut disergap empat lelaki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agar bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu.

Jakarta, Juni 1998

Keluarga Arya Wibisono, seperti biasa, pada hari Minggu sore memasak bersama, menyediakan makanan kesukaan Biru Laut. Sang ayah akan meletakkan satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang ibu, satu piring untuk Biru Laut, dan satu piring untuk si bungsu Asmara Jati. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul.

Jakarta, 2000

Asmara Jati, adik Biru Laut, beserta Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana mencoba mencari jejak mereka yang hilang serta merekam dan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Anjani, kekasih Laut, para orangtua dan istri aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka. Sementara Biru Laut, dari dasar laut yang sunyi bercerita kepada kita, kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya.

Laut Bercerita, novel terbaru Leila S. Chudori, bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan akan anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur.

 

Novel ini telah divisualisasikan dalam film pendek berjudul sama yang sementara hanya besa disaksikan melalui “screening” di acara tertentu

Penokohan

Seperti Pulang, Leila memberikan tempat khusus bagi tiap tokoh sentral dalam novel ini. Bahkan tokoh-tokoh pendukung pun diberikan penggambaran yang detail dan mudah diingat karena kekhasan karakter yang dimiliki. Penceritaan didominasi oleh sudut pandang Laut Biru, namun pada bagian akhir Asmara Jati ambil bagian untuk mengungkapkan jalan pikirannya. Psikologis para tokohpun diberikan ruang lewat kata-kata yang bernas. Beberapa kalimat yang punya kekuatan menceritakan kondisi pikiran para tokoh adalah:

“Ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh daripada pembunuhan.”

Biru Laut

“Matilah engkau mati

Engkau akan lahir berkali-kali”

Sang Penyair

Dua pernyataan tokoh tersebut mewakili apa yang saya sebut sebagai penokohan yang “pas”. Biru Laut punya pernyataan ketika dihadapkan pada ketidakpastian tanpa ujung, teman yang entah bagaimana nasibnya dan tentu saja dirinya sendiri yang akan berakhir di mana. Hanya kegetiran yang dibalut dengan harapan tipis yang mampu mencipta kalimat semacam itu.

Sedangkan untuk Sang Penyair, puisi tersebut -yang mana diambil dari puisi Sutardji Calzoum Bachri- memang menggambarkan pesan yang tak akan lekang oleh waktu. Pesan keberanian sekaligus pesan penyerahan, pesan lewat puisi yang menjadi jiwa novel ini, nyawa bagi aktivis pergerakan: Matilah engkau mati – Engkau akan lahir berkali-kali. Seolah pesan itu akan sampai pada momen: bila memang waktumu sudah tiba, jangan gulana, negeri ini selalu melahirkan engkau yang baru- engkau yang lebih banyak lagi.

Soal tokoh lain, silakan baca sendiri novelnya. Jujur saja, saya sampai hafal karakter dari setiap tokoh namun malah sering lupa namanya. Memang agak banyak nama yang muncul di novel ini, sedikit merepotkan bagi saya yang tak mudah menghafal nama; namun karena penokohan yang baik saya tetap punya gambaran imajiner yang kuat tokoh per tokohnya. Semisal, saya ingat ada tokoh yang ngeyelan, ada tokoh yang selalu pakai blitz saat memotret dan loyal terhadap roll film, ada tokoh yang sebaliknya: hanya memotret saat momen yang tepat, tokoh simbah sederhana yang cerdas, tokoh ibu Laut yang menghibahkan waktunya untuk keluarga, tokoh para penyekap yang punya kekhasan masing-asing, dan masih banyak lagi. 

Setting Lokasi

Beberapa kota dan tempat yang disajikan dalam novel ini begitu otentik. Bila kita pernah bersinggungan dengan UGM atau UI, ada beberapa setting lokasi yang akan menerbitkan rasa penasaran kita atau mengembalikan kenangan. Hal yang brilian adalah bagaimana setting lokasi penyekapan dibuat. Kita seolah bisa membangun penjara kita sendiri, sesuai dengan ketakutan-ketakutan yang kita miliki soal penyekapan, yang sebagian besar dari kita belmlah pernah merasakan.

Setting kota Surabaya bahkan memberikan rekomendasi wisata kuliner yang terkena sejak zaman baheula. Sedangkan setting Blangguan, memberikan gambaran bagaiman sebuah aksi diorganisasi, petak-umpet dengan aparat, sampai mengorbankan segala kenyamanan demi bisa menyuarakan kebenaran.

Apa yang saya dapatkan?

Banyak hal saya temukan dari novel ini. Setidaknya saya bisa merasakan kembali bahwa negeri merdeka nan bebas mengungkapkan suara ini tadinya dibangun oleh darah, penghilangan paksa, hingga keluarga yang merasakan ketidaktahuan dan ketidakpastian sampai saat ini. Saya diingatkan kembali soal Aksi Kamisan yang masih diselenggarakan hingga hari ini, bahkan menjalar ke berbagai kota, tak cuma di depan Istana Negara. 

Buku ini juga menyajikan referensi mengenai buku dan musik yang gemar dinikmati para aktivis, beberapa tokoh dan gerakan melawan penghilangan paksa juga disebutkan sesuai dengan konteks cerita. Saya kadang menjeda membaca dengan mendengarkan lagu atau membaca profil tokoh-tokoh yang munucul dalam novel ini.

Air mata. Ya, beberapa kalis saya menangis melewati paragraf demi paragraf yang membuat saya hanyut. Penyiksaan dan darah pada novel ini mampu membuat saya misuh-misuh karena kekejaman yang mampu dilakukan manusia. Tapi, soal kenangan, soal mimpi, dan soal harapan yang mampu membuat bendungan bola mata saya ambyar. Jadi jangan coba-coba membaca sambil mendengarkan musikalisasi puisi Wiji Thukul, “seumpama… bunga… kami adalah yang tak kau hendaki tumbuh…”, hampir dipastikan saat paragraf yang tepat kita bisa menangis sejadi-jadinya.

Jadi?

Menurut saya novel ini masih punya benang merah dengan gaya penceritaan Pulang, namun lebih menjangkau psikologis tokoh dan lebih “muda” dalam konflik dan situasi. Konflik yang di bangun spektrumnya luas, dari konflik nyata di garis depan hingga konflik alam batin dan pikiran. Saya berkali-kali menjeda buku ini karena memang saya dibawa pada kondisi yang merasakan alam pikiran tokoh. Buat saya itu bagus, karena menjadikan novel ini butuh berhari-hari untuk menyelesaikannya.

Buat saya, novel ini tidak hanya mengingatkan soal Tragedi 1998, penculikan, dan penghilangan paksa. Lebih dari itu, novel ini membawakan watak dari manusi-manusia, membawakan pergolakan diri, membawakan kewajaran bahwa setiap orang punya masa bahagia – masa sulit – masa terpojok, dan manusia selalu punya pilihan untuk bagaimana nantinya ia akan bercerita soal dipakai-untuk-apa-hidupnya.

Jadi, dengarkanlah Laut bercerita, kamu akan mendapatkan lembut romansa, gulungan konflik dan badai psikologis yang memikat dan membuat kita serasa berada di tempat dan waktu yang berbeda.

Harga: 100ribu / Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia / Goodreads (1/3/08): 4,48 / 377 Halaman / Cetakan I: Oktober 2017

Jogja Jakarta Via Kereta Api Jokowi

Jogja Jakarta Via Kereta Api Jokowi

Tidak semua orang berkesempatan bertemu presiden, dijamu presiden, apalagi naik kereta bareng presiden. Tapi jangan khawatir, sekarang kita bisa merasakan rasanya fasilitas kereta kepresidenan lewat kereta wisata. Tapi tentu saja, kita tidak akan bertemu dengan pak Jokowi atau mas Kaesang di sana (kecuali ngepasi mereka […]