Mari bertukar Cerita

Kumpulan Pesan Sri Mulyani kepada Generasi Langgas

Kumpulan Pesan Sri Mulyani kepada Generasi Langgas

 Jangan pernah lelah mencintai Republik ini

Pesan ibu yang kharismatik ini entah sudah berapa kali saya dengar. Pertama kali mungkin sekitar delapan tahun yang lalu, namun “masih terngiaaang di telingakuuu….” sampai saat ini. Lebih dari itu, menjadi penyemangat saat terbersit keinginan untuk menyerah. Seolah Si Ibu mengingatkan, “Ingat le, jangan pernah lelah apalagi menyerah, kamu sudah diberikan kepercayaan untuk menjadi bagian dari perubahan; sekecil apapun peranmu – lakukan sebaik-baiknya, kita ndak pernah tahu hasil usaha kita seperti apa, tapi dengan tidak menyerah untuk mencinta, itu adalah pertanggungjawaban sebaik-baiknya pada Indonesia.”

Oalah bu Sri Mulyani, petuahmu itu, kok ya saya ndak lali lali (gak lupa lupa). Apalagi ada medok-medoknya, makin berasa dinasehati oleh ibu saya sendiri yang kebetulan punya nama depan sama. Jadi ingat, waktu saya dulu wisuda mbok Sri yang melahirkan saya itu memperhatikan betul pidato bu Sri  yang menteri.

Beruntung beberapa waktu lalu saya berkesempatan mendengarkan lagi petuah-petuah Ibu Menteri lewat sebuah acara yang digagas oleh Kemenkeu MudaLha yo mesti, saya sudah siapkan catatan untuk merekam kata-kata beliau yang kuwottebel (asik kalau dibikin quote). Penampilan Bu Sri dengan blazer batik dan semangatnya yang 100% walau acara diadakan selepas maghrib begitu memesona. Walaupun, saya lebih terpana dengan bahasa inggris Bu Menteri. Sungguh, bahasa inggris logat Semarangan yang enak didengar. Sehingga, walaupun kadang beliau menggunakan bahasa inggris saat memberikan arahan dan nasehat, saya seolah-olah sedang dinasehati dalam bahasa sehari-hari. Joss gandhos sensasinya

Berikut ini beberapa petuah yang kuwottebel dan penting tidak hanya bagi generasi langgas alias milenial, melainkan dari generasi ke generasi. Tapi memang, beberapa petuah sangat nendang buat milenial. Seperti yang satu ini

Jangan (jadi orang yang) masih clumsy tapi pengen dapet rekognisi

Kata yang tercetak miring di atas artinya lamban/ ceroboh. Sering terjadi ini pada anak zaman kini; kerjaannya ceroboh, banyak kesalahan minor (bahkan kadang mayor), lewat deadline, tidak mendengarkan arahan, tapi inginnya selalu di depan kalau soal dapat pujian atau pengakuan. Ini yang sering menjangkiti para milenial, merasa ge-er dengan kontribusinya yang entah sebesar (atau sekecil) apa. Kalau menurut hemat saya, pengakuan itu datang dengan sendirinya, ndak perlu gembar-gembor. 

Lha kalau belum dapat rekognisi ya artinya haruslah kerja lebih keras dan lebih cerdas lagi. Yang lebih penting, kerja lebih ikhlas lagi, terutama yang berprofesi sebagai pegawai negeri. Kenapa aparatur negara harus kerja ikhlas? Ya memang fitrahnya begitu: direkrut, dipekerjakan, dimaksimalkan untuk kesejahteraan rakyat, sudah. Nanti kalau kontribusi yang dilakukan sudah dirasakan manfaatnya benar-benar, malah bisa jadi “merasa bahagia karena bisa bermanfaat” menjadi hal yang jauh lebih berarti daripada “sekadar” rekognisi.

Dream beyond yourself, for the good of others

Ini bahasa inggris, tapi merasuk sampai sanubari. Seperti yang saya katakan tadi, diucapkannya Semarnglish (Semarangan English) banget. Ada rasa medok yang menghangatkan hati saat Si Ibu menekan bunyi pada huruf “d”, “b”, “r”, “s” dan “g”. Pesannya, mimpilah, mimpilah yang melampaui dirimu. Tapi bukan sekadar mimpi untuk diri sendiri. Ya, tidak masalah sebenarnya mimpi untuk diri sendiri. Tapi, bila ukuran kemuliaan manusia adalah manfaat, memiliki mimpi untuk kemaslahatan orang lain tentu kan punya nilai yang berbeda. Energinya juga beda, karena mimpi yang kita perjuangkan ini bukan untuk diri kita sendiri. Kalau kita malas-malasan mengejar mimpi, kesempatan bermanfaat lebih banyak lagi bisa pergi. 

Contoh saja, ada seorang kepala desa yang punya mimpi “ingin anggaran desanya transparan dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran masyarakat desa”. Karena mimpinya untuk orang banyak, nggo wong sak-deso, untuk orang satu desa; tentu dia akan mati-matian menggapai mimpinya. Mungkin dia akan memastikan kebutuhan yang tercantum dalam anggaran haruslah benar, mungkin ia akan menyisir setiap pos anggaran berhari-hari dan lembur hingga larut malam, mungkin dia akan menanyakan langsung kepada warga apakah proyek ini itu yang ada di dalam anggaran benar-benar dibutuhkan masyarakat atau tidak. Orang kalau sudah punya mimpi melebihi dirinya, akan punya energi luar biasa dari semesta dan dari orang-orang yang mendoakan niat baiknya. Sambil dilanjutkan baca, yuk sambil mikir kira-kira mimpi kita yang beyond yourself  apa ya?

Disuruh 10 kerjakan 20! Bukan untuk menyenangkan bos, tapi untuk menyenangkan dirimu sendiri

Ya tentu, kalau dapat anak buah macam ini bos mana sih yang tidak senang? Tapi yang lebih penting adalah mindset dari kita sebagai orang yang diberikan perintah. Kalau niatnya sekadar menyenangkan bos, ya lama-kelamaan capek, ngeluh, atau malah misuh-misuh. Beda bila kita bekerja melampaui ekspektasi untuk menyenangkan diri, untuk menunjukkan kepada diri kita sendiri bahwa kita punya kualitas, untuk menaikkan level kita dari hari ke hari dan untuk menjadikan kita terbiasa melakukan kerja dengan sepenuh hati. Saat kita sudah biasa melakukan semuanya melebihi ekspektasi, kesempatan-kesempatan yang cocok dengan spesifikasi intrinsik diri kita akan terbuka.

Be Clear, Be Positive!

Be Clear doesn’t mean you must avoid Head and Shoulders or Pantene. Jadi, seharusnya kita sebisa mungkin suci dalam pikiran – perkataan – dan perbuatan; seperti darma kesepuluh dalam Dasadharma Pramuka. Pikiran harus postif, kurang-kurangi buruk sangka alias suuzan, kurang-kurangi ghibah, kurang-kurangi punya pikiran jelek kepada rekan atau atasan, kurang-kurangi merasa dimanfaatkan, pokoknya kurang-kurangilah pikiran yang membuat mood dan jiwa kita jadi buruk dan kerjaan amburadul. Termasuk soal gawai; kurang-kurangilah mengikuti akun-akun media sosial yang provokatif, membuat judul bombastis, menjajakan amarah, menjual kebencian, dll. Be clear, be positive!

Respect to Other

Inilah yang acap jadi masalah bagi orang-oraang yang baru masuk dunia kerja: milih-milih mau respek ke siapa. Padahal, ya gak perlu. Respeklah pada semua orang, karena di tempat kerja dan di manapun berada setiap orang punya andil yang tidak boleh kita sepelekan. 

Lebih baik toilet paper daripada koruptor, lho iya, toilet paper jelas kegunaannya – coba kalau kamu ke toilet terus gak ada itu, pasti kebingungan- sedangkan koruptor dia sudah tidak ada harganya.

Udah ya, yang ini gak perlu penjelasan. Udah kayak ditampar pakai tangan tak kasat mata, seperti ada seorang ratu bertitah, “Awas yo, sampek korupsi tak antemi ngasi merana uripmu!” o-a o-e.

Sebenarnya pesan beliau ini masih banyak, tapi karena keterbatasan kemampuan saya dalam menulis panjang maka saya cukupkan dengan satu pesan lagi. Kalau mau video waktu Bu Menteri berdiskusi malam itu, silakan cari di Youtube. Eh tapi, karena saya mau mengamalkan disuruh 10 kasih 20, maka waktu jeda mengetik kata “Youtube” saya mencari videonya, baik kan saya, bukan mau cari rekognisi lho ini. Sila tonton cuplikan acara malam itu di sini  karena yang versi lengkap saya belum menemukan. Hmm, langsung lanjut pesan terakhir bu Sri yang saya pindahkan ke sini ya… 

Respect your parents, say love to them. That is a big gift to them.

Ridhonya Allah bergantung pada ……. (silakan jawab) dan murkanya Allah juga bergantung pada murkanya …. (jawab lagi boleh). Alhamdulillah, pinter ngaji rupanya. Pokoknya membahagiakan orang tua sesederhana mengucapkan terima kasih dan rasa cinta kita kepada mereka. Ya, untuk membalas semua cinta dan pengorbanan yang selama ini mereka berikan, tak harus dengan hal-hal besar bila memang belum mampu melaksanakan.

Seorang ayah dan seorang ibu, saya yakin akan sangat bahagia dan bangga punya anak yang pada suatu sore pulang ke rumah, mencium tangan mereka dan berkata, “Ayah, ibu, terima kasih untuk semua yang telah ayah-ibu lakukan buatku; maaf bila aku banyak salah dan bikin sedih; ayah-ibu di balik sikapku sebenarnya aku sangat menyayangi ayah dan ibu; Terima kasih untuk kebaikan-kebaikanmu.” So sweet tenan…

Sejujurnya, ini pun masih menjadi PR buat saya juga, melafalkandahmu rasa cinta kepada orang tua di keluarga yang tidak membiasakan mengungkapkan cinta dengan kata-kata bukan perkara. Sebenarnya bukan tidak mau, lebih ke malu dan belum siap menghadapi suasana haru-biru. Tapi saya sudah niatkan untuk mengatakan.

Nah, bicara soal PR, nasehat-nasehat Sri Mulyani Indrawati di atas, bila sudah terlanjur dibaca ya.. dijadikan PR saja sekalian. Paling tidak mulai dari PR yang awal tadi: soal memikirkan mimpi. Apa mimpimu dalam bermanfaat bagi orang lain?

Jangan merasa pintar. Dulu saya lulusan terbaik di FE UI, waktu masuk dunia kerja merasa belum tahu apa-apa, stay hungry and foolish.

Sri Mulyani Indrawati

Catatan saya selama acara bersama Bu Menteri. Iya, itu memang orangnya yang gak bisa bikin ilustrasi. 😀


1 thought on “Kumpulan Pesan Sri Mulyani kepada Generasi Langgas”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *