Mari bertukar Cerita

Rehat Jumat: Hal Rindu

Rehat Jumat: Hal Rindu

Hal rindu, sering menguras tenaga dan waktu. Setiap kita tentu pernah merasakannya. Mungkin kamu bisa sedikit mengingat saat jatuh cinta. Merindukan orang yang disuka itu rasanya antara bahagia yang sangat, tapi saking bahagianya kadang malah jadi pedih sendiri saat sulit untuk bersua. Hal rindu memang selalu jadi misteri, setiap orang punya versi sendiri-sendiri soal sosok yang dirindui, yang bila tak sengaja teringat suatu kali bisa membuat pikiran melayang sendiri.

Bahkan rindu yang berat, bisa membuat waktu seolah melambat

Saya sangat setuju bila rindu bisa membuat waktu seolah melambat. Rindu ada karena jarak, karena tidak bisa bertatap muka dengan orang yang diharapkan. Oleh karenanya saya juga sangat setuju bila waktu tunggu yang dipenuhi rindu itu diisi dengan hal-hal yang membuat orang yang dirindukan bahagia. Sehingga saya rasa semua akan setuju bila sebaiknya rindu ditambat di tempat yang tepat. 

Tentu saya tak akan bicara tentang siapa orangnya yang harus dirindukan, toh tentu saja kita punya sosok masing-masing. Namun begitu, saya bisa merekomendasikan satu sosok yang bila kita merindukannya selama dan sesering apapun, tak akan rugi rindu yang tercipta itu. Ini adalah apa yang saya pahami soal rindu yang tak akan dicederai

Buat saya, rindu yang dikirimkan lewat doa, pada Ia yang mendengarkan setiap pinta adalah rindu yang paling tidak berisiko.

Rindu yang dibalas dengan rindu yang lebih besar, berjalan yang dibalas dengan berlari, serta kekhilafan yang dibalas dengan ampunan.

Hal yang paling saya ingat soal Dia bukanlah mengenai surga dan neraka ataupun nikmat dan siksa. Soal Dia, saya paling ingat adalah bagaiamana Ia punya rencana besar untuk tiap-tiap kita. Tentu saja, sangat sering kita tidak menurut dengan apa yang Ia mau. Tapi, seberapapun bandel kita, toh kita masih ditunggu-tunggu selalu. Masih dirindukan untuk kembali saat berbuat ulah, masih dirindukan rintihan kita saat mengadu – berdoa – berkeluh kesah dan masih pula ia setia pada janjinya.

Ia berkata, “Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR Bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675)

Siapa di dunia ini yang bisa memberikan kebaikan berkali lipat setiap kali kita berbuat baik? Bahkan tak jarang kita dibalas dengan keburukan saat berusaha membantu orang lain. Atau, berapa banyak pemimpin, bangsawan, raja yang kita datangi dengan berjalan, lalu dia kan berlari kencang, menghambur lalu segera memeluk kita? 

Tentu tak terbayangkan betapa mulia sosok-Nya: Ia sang Pemilik Semesta menyambut diri kita setiap saat dengan segala kasih sayang dan bentuk penghormatan. Kita yang lemah tak berdaya, kita yang hanya debu-debu di antara semesta raya diberikan tempat yang begitu agung dan mulia: menjadi makhluk yang dirindukan penciptanya, menjadi makhluk yang diganjar berlipat ganda saat berusaha sedikit saja. Lalu, tak malukkah kita dengan balasan yang kita berikan atas setiap cinta yang setiap detiknya Ia siapkan? Tak malukah kita hanya berdiam, sementara Ia selalu siaga mendekati sedepa saat kita mendekat sehasta, sementara ia akan merengkuh kita dalam lari-Nya saat terseok kita berjalan mendekati-Nya? Masihkah ada rasa malu di dalam dada kita sebagai hamba?

Hari ini saya bersyukur, masih dibolehkan merindu-Nya dengan sangat, merasakan karunia-Nya begitu hangat, menyampaikan rindu tanpa perlu perantara ucap kalimat.

Ia yang begitu dekat, Ia pula yang sering kita abaikan dalam menikmati hidup dan mencari hakikat.

Tentulah kita lebih sering alpa. Entah tak berbilang nikmat kita rasakan, dari lahir hingga hari ini kita belum dimatikan. Berapa banyak orang baik yang hadir dalam hidup kita. Sesederhana ibu-ibu penjual makanan yang mengganjal perut kita saat lapar hingga ibu kandung yang melahirkan kita, yang tak kenal waktu dan tenaga memberikan kasih sayang dalam segala keterbatasannya. Apakah kita pura-pura lupa saat Ia hadir dalam setiap titik nadir? Apakah kita pura-pura lupa saat ia menguatkan kita saat masalah mendera dari arah yang kita tidak duga? Apakah kita juga pura-pura lupa saat serupiah rezeki yang sampai pada tangan kita dan sehembus napas yang sampai detik ini masih dirasa adalah kemurahannya? Kita lupa, bahkan doa yang tak sempat terucap sudah sering kali dikabulkannya. 

Hari ini marilah kita bersyukur, karena masih ada umur untuk menemukan keridaan-Nya di bumi barat hingga timur.

Demi menggempur waktu-Nya yang terus diulur, demi masa perjumpaan dan pertukaran rindu di tempat yang termasyur.

Demi firdaus dan pertemuan pada kampung halaman yang kudus.

Kawan, rindu memang berat. Akupun pernah rindu pada seorang manusia, Muhammad namanya. Ia yang tak pernah mengenalku, tak pernah mengeja namaku, tak mengerti keburukanku, berabad lalu mendoakanku dan mendoakanmu di ujung matinya, “Ummati.. ummati..” Itulah yang keluar dari mulut saat sekarat maut. Sedang dalam hati, tentu penuh harap agar segenap para pengikut mendapat rahmat dan ampunan hingga akhir zaman. Ia Muhammad yang menyerahkan seluruh hartanya bagi kemaslahatan manusia. Ia Muhammad yang jika ia mau ia bisa membuat malaikat-malaikat gunung meruntuhkan batu dan pasir untuk membinasakan penduduk Tha’if setelah penghinaan yang mereka berikan, namun ia Muhammad yang patut dirindukan. Ia lebih memilih untuk memohon ampunan dan mengirimkan berdoa, “Aku berharap dengan kehendak Allah, anak-anak mereka pada suatu masa nanti akan menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya.”

Kawan, rindu memang berat. Rindu seorang Muhammad untuk bertemu dengan Tuhannya bersama dengan segenap umat, membuat setiap salatnya penuh air mata dan ratap. Hingga di saat sekarat ia tak berhenti menengadahkan harap untuk umat segenap. Tak maukah kau membersamainya kelak di akhirat, menghadap Penguasa Semesta dan menyaksikan bahwa segenap umatnya telah berusaha sekuat tenaga?

Hari ini; mumpung nafas masih mengalir, mumpung darah masih berdesir, mumpung kepala masih berpikir, mumpung hati masih mau berzikir dan mumpung air mata tak enggan mengalir, tak pernah salah rasanya kita berusaha, itulah yang dibutuhkan diri kita. Diam bukanlah pilihan, karena beringsut sedikit saja Ia akan menyambut dengan sukacita.

Bukanlah soal akan berakhir di mana kita setelah usaha yang kita lakukan, sedangkan sekadar bisa merindukan-Nya dalam hiruk-pikuk dunia adalah nikmat yang tiada tara. Sedangkan sedikit yang kita perbuat selalu dibalas berlipat ganda, sedangkan sekotor apapun diri, sebejat apapun nurani, sekelam apapun masa lalu, sebobrok apapun pikiran kita dahulu, sejelek apapun perilaku, semua dapat terhapuskan selama nyawa belum di tenggorokan. 

Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747).

Sungguh, Allah mencintaimu, sungguh. Andaikan kita tak bisa menjadi orang berilmu yang pantas mendapatkan derajat mulia di sisi-Nya atau ahli ibadah dengan pundi-pundi pahala. Jadilah seorang pendosa yang tahu diri. Setidaknya kita dapat menjadi hamba yang membuat-Nya sangat bergembira saat kita kembali pada-Nya. Hamba yang setiap kali berbuat salah, memohon ampunan, berusaha menutupinya dengan kebaikan dan menggapai keridaannya walau dengan selemah-lemah iman.

Tuhanku, biarkanlah hidupku adalah sepenuhnya rindu pada-Mu

dan jadikan matiku nanti seutuhnya keridaan-Mu

Amin. 

 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *