Mari bertukar Cerita

Reviu Novel: Laut Bercerita – Leila S. Chudori

Reviu Novel: Laut Bercerita – Leila S. Chudori

Gue abis baca prolognya masih berasa kesel. Lagi nyari mood buat baca lagi. Sebenernya gue kurang cocok sama tipe cerita kayak gitu (suspense-pindah seting-suspense-pindah seting dst.). Baperan soalnya. [E. PNS beranak satu]

 

Novel yang berkisah tentang aktivitas pergerakan di tahun 90’an

Novel ini punya awal yang cukup mengentak, bahkan beberapa orang sudah sembab matanya seusai membaca prolog. Novel ini adalah sebuah fiksi yang diangkat dari wawancara dan observasi Leila S. Chudori terhadap korban penculikan dan keluarga korban penculikan dan penghilangan paksa pada Tragedi 1998. Teman saya pun termasuk salah satu pembaca yang terkena dampak psikologis hingga menjeda novel tersebut dengan membaca “novel cinta-cintaan”. Saya sendiri mendapatkan efek yang serupa, prolog yang menyajikan adegan penyiksaan dan diakhiri dengan pernyataan tentang nasib tokoh Laut membuat pembaca menebak-nebak bagaimana seorang Laut menghidupkan kisahnya. Ya, saya termasuk yang berkaca-kaca (dan ambyar juga kacanya) di bagian prolog, tapi bukan Leila jika ia tidak punya cara bercerita yang khas.

Entakan Kedua

Setelah dikagetkan dengan prolog yang begitu suram. Pilu, kalau meminjam istilah Ayu Shita soal novel ini. Saya dientakkan lagi dengan romansa yang lahir dari kehidupan remaja/ mahasiswa tahun 90’an. Benar-benar peralihan yang sepertinya njeglek (tiba-tiba) tapi saya malah menikmatinya. Saya bagaikan diberi jeda untuk bisa bernafas, sebelum dientakkan lagi dengan kepiluan yang lebih menyayat dan kepahitan yang lebih pekat. Begitu terus pembaca dibuat, serasa naik roller coaster kita diberi waktu untuk menikmati pemandangan indah, romasa cinta yang dibalut kegiatan aktivis (tentu ini jadi menarik bagi orang yang belum pernah bersentuhan dengan dunia aktivis pergerakan – atau akan menjadi nostalgia untuk para aktivis pergerakan yang pernah merasakan hal serupa); namun saat menikmati keindahan itu, kita sudah melihat halaman berikutnya bukan lagi kertas berwarna cerah, namun berwarna gelap dan bau darah.

Sebelum melanjutkan reviu, kita lihat dulu cuplikan novelnya lewat tulisan yang tertera di sampul belakang buku ini

Jakarta, Maret 1998

Di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa bernama Biru Laut disergap empat lelaki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agar bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu.

Jakarta, Juni 1998

Keluarga Arya Wibisono, seperti biasa, pada hari Minggu sore memasak bersama, menyediakan makanan kesukaan Biru Laut. Sang ayah akan meletakkan satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang ibu, satu piring untuk Biru Laut, dan satu piring untuk si bungsu Asmara Jati. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul.

Jakarta, 2000

Asmara Jati, adik Biru Laut, beserta Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana mencoba mencari jejak mereka yang hilang serta merekam dan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Anjani, kekasih Laut, para orangtua dan istri aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka. Sementara Biru Laut, dari dasar laut yang sunyi bercerita kepada kita, kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya.

Laut Bercerita, novel terbaru Leila S. Chudori, bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan akan anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur.

 

Novel ini telah divisualisasikan dalam film pendek berjudul sama yang sementara hanya besa disaksikan melalui “screening” di acara tertentu

Penokohan

Seperti Pulang, Leila memberikan tempat khusus bagi tiap tokoh sentral dalam novel ini. Bahkan tokoh-tokoh pendukung pun diberikan penggambaran yang detail dan mudah diingat karena kekhasan karakter yang dimiliki. Penceritaan didominasi oleh sudut pandang Laut Biru, namun pada bagian akhir Asmara Jati ambil bagian untuk mengungkapkan jalan pikirannya. Psikologis para tokohpun diberikan ruang lewat kata-kata yang bernas. Beberapa kalimat yang punya kekuatan menceritakan kondisi pikiran para tokoh adalah:

“Ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh daripada pembunuhan.”

Biru Laut

“Matilah engkau mati

Engkau akan lahir berkali-kali”

Sang Penyair

Dua pernyataan tokoh tersebut mewakili apa yang saya sebut sebagai penokohan yang “pas”. Biru Laut punya pernyataan ketika dihadapkan pada ketidakpastian tanpa ujung, teman yang entah bagaimana nasibnya dan tentu saja dirinya sendiri yang akan berakhir di mana. Hanya kegetiran yang dibalut dengan harapan tipis yang mampu mencipta kalimat semacam itu.

Sedangkan untuk Sang Penyair, puisi tersebut -yang mana diambil dari puisi Sutardji Calzoum Bachri- memang menggambarkan pesan yang tak akan lekang oleh waktu. Pesan keberanian sekaligus pesan penyerahan, pesan lewat puisi yang menjadi jiwa novel ini, nyawa bagi aktivis pergerakan: Matilah engkau mati – Engkau akan lahir berkali-kali. Seolah pesan itu akan sampai pada momen: bila memang waktumu sudah tiba, jangan gulana, negeri ini selalu melahirkan engkau yang baru- engkau yang lebih banyak lagi.

Soal tokoh lain, silakan baca sendiri novelnya. Jujur saja, saya sampai hafal karakter dari setiap tokoh namun malah sering lupa namanya. Memang agak banyak nama yang muncul di novel ini, sedikit merepotkan bagi saya yang tak mudah menghafal nama; namun karena penokohan yang baik saya tetap punya gambaran imajiner yang kuat tokoh per tokohnya. Semisal, saya ingat ada tokoh yang ngeyelan, ada tokoh yang selalu pakai blitz saat memotret dan loyal terhadap roll film, ada tokoh yang sebaliknya: hanya memotret saat momen yang tepat, tokoh simbah sederhana yang cerdas, tokoh ibu Laut yang menghibahkan waktunya untuk keluarga, tokoh para penyekap yang punya kekhasan masing-asing, dan masih banyak lagi. 

Setting Lokasi

Beberapa kota dan tempat yang disajikan dalam novel ini begitu otentik. Bila kita pernah bersinggungan dengan UGM atau UI, ada beberapa setting lokasi yang akan menerbitkan rasa penasaran kita atau mengembalikan kenangan. Hal yang brilian adalah bagaimana setting lokasi penyekapan dibuat. Kita seolah bisa membangun penjara kita sendiri, sesuai dengan ketakutan-ketakutan yang kita miliki soal penyekapan, yang sebagian besar dari kita belmlah pernah merasakan.

Setting kota Surabaya bahkan memberikan rekomendasi wisata kuliner yang terkena sejak zaman baheula. Sedangkan setting Blangguan, memberikan gambaran bagaiman sebuah aksi diorganisasi, petak-umpet dengan aparat, sampai mengorbankan segala kenyamanan demi bisa menyuarakan kebenaran.

Apa yang saya dapatkan?

Banyak hal saya temukan dari novel ini. Setidaknya saya bisa merasakan kembali bahwa negeri merdeka nan bebas mengungkapkan suara ini tadinya dibangun oleh darah, penghilangan paksa, hingga keluarga yang merasakan ketidaktahuan dan ketidakpastian sampai saat ini. Saya diingatkan kembali soal Aksi Kamisan yang masih diselenggarakan hingga hari ini, bahkan menjalar ke berbagai kota, tak cuma di depan Istana Negara. 

Buku ini juga menyajikan referensi mengenai buku dan musik yang gemar dinikmati para aktivis, beberapa tokoh dan gerakan melawan penghilangan paksa juga disebutkan sesuai dengan konteks cerita. Saya kadang menjeda membaca dengan mendengarkan lagu atau membaca profil tokoh-tokoh yang munucul dalam novel ini.

Air mata. Ya, beberapa kalis saya menangis melewati paragraf demi paragraf yang membuat saya hanyut. Penyiksaan dan darah pada novel ini mampu membuat saya misuh-misuh karena kekejaman yang mampu dilakukan manusia. Tapi, soal kenangan, soal mimpi, dan soal harapan yang mampu membuat bendungan bola mata saya ambyar. Jadi jangan coba-coba membaca sambil mendengarkan musikalisasi puisi Wiji Thukul, “seumpama… bunga… kami adalah yang tak kau hendaki tumbuh…”, hampir dipastikan saat paragraf yang tepat kita bisa menangis sejadi-jadinya.

Jadi?

Menurut saya novel ini masih punya benang merah dengan gaya penceritaan Pulang, namun lebih menjangkau psikologis tokoh dan lebih “muda” dalam konflik dan situasi. Konflik yang di bangun spektrumnya luas, dari konflik nyata di garis depan hingga konflik alam batin dan pikiran. Saya berkali-kali menjeda buku ini karena memang saya dibawa pada kondisi yang merasakan alam pikiran tokoh. Buat saya itu bagus, karena menjadikan novel ini butuh berhari-hari untuk menyelesaikannya.

Buat saya, novel ini tidak hanya mengingatkan soal Tragedi 1998, penculikan, dan penghilangan paksa. Lebih dari itu, novel ini membawakan watak dari manusi-manusia, membawakan pergolakan diri, membawakan kewajaran bahwa setiap orang punya masa bahagia – masa sulit – masa terpojok, dan manusia selalu punya pilihan untuk bagaimana nantinya ia akan bercerita soal dipakai-untuk-apa-hidupnya.

Jadi, dengarkanlah Laut bercerita, kamu akan mendapatkan lembut romansa, gulungan konflik dan badai psikologis yang memikat dan membuat kita serasa berada di tempat dan waktu yang berbeda.

Harga: 100ribu / Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia / Goodreads (1/3/08): 4,48 / 377 Halaman / Cetakan I: Oktober 2017



2 thoughts on “Reviu Novel: Laut Bercerita – Leila S. Chudori”

  • “Setidaknya saya bisa merasakan kembali bahwa negeri merdeka nan bebas mengungkapkan suara ini tadinya dibangun oleh darah, penghilangan paksa, hingga keluarga yang merasakan ketidaktahuan dan ketidakpastian sampai saat ini.”

    Ini makjleb banget kak, jadi pengen baca buku ini. Thx for sharing this, brilliant! Btw jadi mengingatkan saya sama film A Taxi Driver buatan Korea, ga tau kenapa hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *